‘Om Telolet Om’ Mendunia dan Pemburu Om Telolet Om

Liputan389.com – Fenomena ‘om telolet om’ dan ‘bus telolet’ menjadi trending topic dunia. Asal-usul dan arti kata telolet jadi buah bibir warga Indonesia, bahkan dunia.

Awalnya, musisi ternama seperti DJ Snake, DJ Zedd,DJ Marsmello bahkan DJ Martin Garrix bercuit lewat Twitter dengan menuliskan kalimat fenomenal tersebut. DJ Snake, DJ Zedd,DJ Marsmello dan DJ Martin Garrix bahkan mempertanyakan arti telolet dengan memposting “What is Om telolet Om?”

Lantas, dari mana asal kata telolet tersebut? Ketua Bismania Community Arief Setiawan punya jawabannya.

Ia menjelaskan, bunyi telolet yang merepresentasikan klakson bus justru muncul pertama kali bukan di Indonesia, melainkan Timur Tengah. Bunyi itu digunakan untuk mengusir unta yang kerap berada di jalanan.

Kemudian, ada seorang pengusaha yang mendengar bunyi khas tersebut dan membawa ‘pulang’ ke Indonesia untuk digunakan sebagai klakson bus. “(Bunyi) telolet itu justru aslinya dari Timur Tengah untuk ngusir unta. Di Arab kalau enggak salah. Kemudian setahu saya dulu ada pengusaha, dengar suara itu dipasang di busnya. Tapi waktu itu kan belum banyak yang pakai telolet. Belum jadi viral kan,” kata Arief Setiawan

Meski baru-baru ini kata telolet populer dari wilayah Jawa, tapi menurutnya asal kata tersebut bukan dari bahasa Jawa. “Itu bukan dari bahasa Jawa. Suaranya saja yang bunyi telolet dan unik,” urai Arief.

Kata telolet menjadi viral baru sekitar dua tahun belakangan ini dan dipopulerkan justru oleh anak-anak sekolah. Sebelumnya, mereka tidak menyebut kata telolet untuk meminta sopir membunyikan klakson.

“Yang minta telolet itu anak-anak yang mau sekolah. Dulu sih malahan mereka bilangnya ‘om klakson om’,” ungkapnya.

Arief menjelaskan, di kalangan pecinta bus sendiri, kata tersebut juga sebelumnya tidak terlalu populer dibanding bunyi lainnya. “Baru-baru ini aja kok telolet ramainya. Sebelumnya ada juga klakson bunyinya sreng sreng. Cuma kan enggak banyak yang tahu

Om Telolet Om!

#OpiniOm bagi telolet dong!

Posted by Opini.id on Wednesday, December 21, 2016

 

Begitu juga ada nya pemburuan baru untuk pemburuan ” Om telolet Om” di kawasan- kawasan tertentu dari Djoko Setijowarno, pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata mengatakan suara klakson telolet masih dalam batas ambang seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 tahun 2012 tentang Kendaraan. Ia merujuk Pasal 69 PP tersebut, suara klakson paling rendah adalah 83 desibel (dB) dan paling tinggi 118 desibel (dB). Menurut dia, ada larangan daerah tertentu klakson dibunyikan secara keras, yaitu di kawasan sekolah dan rumah ibadah.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menegaskan tidak melarang ‘bus telolet’. Dia hanya mengimbau masyarakat agar tidak abai terhadap keselamatan diri dan lalu lintas.

“Sebenarnya bukan melarang, saya sebagai pribadi itu senang musik, apalagi bus itu. Yang saya imbau itu karena ada indikasi mereka sampai jalan tol, itu yang jangan,” kata Budi Karya di Halaman Silang Monas Sisi Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (22/12/2016).

Budi menyatakan kegiatan masyarakat yang meminta bus membunyikan klaksonnya tersebut sangat berbahaya. Namun ia mengakui bahwa hal tersebut merupakan bentuk kreativitas dan tidak perlu dilarang.

“Karena itu kreativitas, jadi bukan larangan itu enggak boleh. Jangan di jalan raya karena itu bahaya. Bukan tidak boleh,” ujarnya.

 

Polri mengatakan suara klakson tersebut melebihi ambang batas dan akan ditertibkan
Polri mengatakan suara klakson tersebut melebihi ambang batas dan akan ditertibkan

“(Klakson) itu kan fungsinya memberikan pesan, memberikan tanda. Pesan yang diharapkan pesan yang tepat, baik, dan terukur. Yang terjadi dari bus telolet ini, pesan yang disampaikan melebihi ambang batas,” kata Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul di kantornya, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (22/12/2016).

“Nah, itu bisa ditertibkan. Sehingga nanti yang dilakukan Polri akan menghentikan mereka lalu beri teguran dulu. Nanti kalau masih begitu, baru ditilang,” sambungnya.

Martinus mengatakan, polisi akan merazia bus dengan klakson berbunyi ‘telolet’ tersebut serta mendorong peran Dishub untuk ikut menertibkan. Sebab, klakson tersebut tidak sesuai dengan standar yang ada.

“Kita akan lakukan razia. Kita begini, kita mendorong peran Dishub, jangan dikit-dikit polisi. Mendorong Dishub-lah berperan,” imbuhnya.

Menurut Martinus, salah satu bahaya dari klakson bus ini adalah bunyinya menyebabkan orang lain kaget, sehingga bisa mendorong terjadinya kecelakaan.

Soal banyaknya anak-anak yang suka dengan suara klakson tersebut, Martinus menganggap tidak masalah karena itu adalah bentuk ekspresi. Namun, ia mengimbau, jika ingin melihat bus, lebih baik di tempat pemberhentian bus agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Kita memang senang saja mereka berekspresi. Namun harus diingatkan jangan sampai jadi korban. Kalau mau, mainnya ke tempat pool-nya dan pemberhentian, seperti terminal gitu,” ujarnya.

“Kemarin dinas perhubungan melakukan pengukuran pada bus-bus milik PO (perusahaan otobus) Haryanto dan Harapan Jaya untuk klakson teloletnya. Hasilnya, output suara di bus-bus milik kedua PO tersebut suaranya mencapai 90-92 dB,” kata Djoko kepada detikcom, Kamis, (22/12/2016).

Meskipun demikian, ia melanjutkan, ada larangan daerah tertentu klakson dibunyikan secara keras, yaitu di kawasan sekolah dan rumah ibadah.

Klakson telolet, menurut Djoko, merupakan komponen variasi kendaraan untuk kendaraan besar serta legal karena masuk dalam komponen ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek). Klaksonnya pun memiliki standar nasional. Sebenarnya, pada awal-awal penggunaan telolet untuk trailer dan truk tronton, lalu bus ikut memasangnya. Di luar negeri, khususnya Swedia dan Jerman, klakson multinada atau telolet memang dipakai bus besar dan truk panjang.

“Tapi tidak seheboh seperti di tanah air. Di sini menjadi popular karena ditanggapi banyak pihak khususnya komunitas bismania,” ujar alumnus jurusan Rekayasa Transportasi ITB itu.

Demam 'om telolet om' hingga ke luar negeri membuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berkomentar.
Demam ‘om telolet om’ hingga ke luar negeri membuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berkomentar.

Demam ‘om telolet om’ hingga ke luar negeri membuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berkomentar. Menurutnya, klakson telolet sebaiknya digunakan sesuai kebutuhan, bukan untuk mainan.

“Klakson itu (telolet) bukan untuk mainan, tapi digunakan jika ada perlunya,” kata Risma seusai pemusnahan barang bukti sabu di Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak, Kamis (22/12/2016).

Risma mengungkapkan di Kota Surabaya tidak ada aktivitas warga di pinggir jalan yang meminta sopir bus membunyikan klakson telolet. Bahkan wali kota perempuan pertama di Surabaya ini mengaku pernah ditanya seseorang saat di luar negeri.

About the Author