Jokowi : Serbuan ‘pekerja asing dari China’ di Indonesia tidak logika

Liputan389.com – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencabut aturan bebas visa bagi turis asal China. Permintaan ini menyusul kabar masuknya jutaan pekerja China ke Indonesia.

“Kami mendesak Presiden Jokowi cabut aturan bebas visa untuk turis China karena banyak disalahgunakan oleh tenaga kerja China,” Tutur Presiden KSPI, Said Iqbal dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (26/12/2016).

jumlah tenaga kerja asing asal China di Indonesia sekitar 21 ribu adalah bohong.
jumlah tenaga kerja asing asal China di Indonesia sekitar 21 ribu adalah bohong.

KSPI, lanjutnya pun beri dukungan langkah DPR untuk membentuk pansus pengawasan tenaga kerja asing. Said pun menuding data Kementerian Tenaga Kerja yang menyebut jumlah tenaga kerja asing asal China di Indonesia sekitar 21 ribu adalah bohong.

“Itu adalah sebuah kebohongan besar karena data tersebut hanya mencatat tenaga kerja asing legal dengan keterampilan atau skill worker. Sedangkan KSPI mencatat, pekerja ilegal China yang tidak berketerampilan atau unskill worker, jumlahnya mencapai ratusan ribu orang,” jelas Said.

Lanjutnya, pekerja ilegal asal China ini bekerja di sektor manufaktur, pembangkit listrik, perdagangan, jasa, dan sektor lainnya yang tersebar di Bali, Kalimantan, Sulawesi Tenggara, Banten, Papua, Jakarta, dan daerah lainnya.

“Pekerja China ini melanggar UU Nomor 13 Tahun 2003 karena faktanya pekerja China, seperti supir forklift, tukang batu, operator mesin bisa bekerja di sini. Ini menghilangkan kesempatan kerja bagi pekerja lokal,” tegas Said.

Buruh Pekerja CHina di indonesia mencapai 13 ribu banyka nya
Buruh Pekerja CHina di indonesia mencapai 13 ribu banyak nya

Dia meminta pemerintah menghentikan masuknya tenaga kerja asing asal China ke Indonesia. “Stop unskill worker asal China yang akan membahayakan Indonesia dari segi ekonomi, budaya, sosial, bahkan ideologi dan politik, yang boleh jadi ke depan berjumlah jutaan orang,” Tegas Said.

Sebelumnya pada 21 Desember 2016, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri membantah adanya serbuan pekerja China ke Indonesia. Menurut dia, isu terkait serbuan tertera cuma isapan jembol belaka.

Hanif menyatakan, selama ini pemerintah telah memiliki skema pengendalian terhadap masuknya pekerja asing ke Indonesia. Dengan demikian, tidak bisa sembarang pekerja asing bisa bekerja di Indonesia.

“Pertama bahwa pemerintah mempunyai skema penanganan guna masuknya pekerja asing di Indonesia. Bahwa yang bisa masuk dan bekerja di Indonesia hanya yang skill. Tidak semua jabatan diduduki pekerja asing. Jadi hanya jabatan-jabatan tertentu yang intinya pada level skill dan profesional,” ujar dia di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Selain itu, Hanif menambahkan, Indonesia bukan negara yang tertutup terhadap pihak asing, termasuk dari sisi tenaga kerjanya. Oleh karena itu, wajar jika ada pekerja China atau pekerja asing yang bekerja di Indonesia.

“Kedua, secara prinsip, Indonesia negara yang terbuka. Sehingga masuknya pekerja asing ini harus dipandang sebagai dinamika keterbukaan international,” kata dia.

Meski demikian, kata Hanif, selama pekerja asing tersebut masuk dan bekerja di Indonesiatepat dengan kaidah yang autentik, maka tidak ada masalah jika mereka bekerja di Indonesia.

Begitu juga Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa isu serbuan pekerja China ke Indonesia tak masuk logika.‎ Salah satu alasan yang membuat isu tersebut tak bisa diterima logika karena gaji di China lebih besar jika dibanding dengan gaji di Indonesia.

Buruh kerja dari china
Wawancana Buruh pekerja asing  dari china

 

Joko‎wi mengatakan, memang ada beberapa tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. Namun status para pekerja tersebut hanya sementara saja di Indonesia. Para pekerja asing tersebut ke Indonesia untuk membagi ilmu (knowledge transfer).

Para pekerja tersebut datang untuk menggarap tahap awal sebuah proyek. Hal tersebut dilakukan karena belum ada sumber daya manusia lokal yang menguasai teknologi dan pengetahuan. Jadi kedatangan tenaga kerja asing bisa dimanfaatkan untuk transfer ilmu. Setelah semua selesai maka tenaga kerja asing tersebut kembali lagi ke negara asalnya.


“Tenaga kerja asing hanya di awal, yang dibutuhkan memang di awal. Mereka membantu mempersiapkan, menyetel, di situ ada transfer ilmu, transfer pengetahuan. Setelah itu mereka pulang, tenaga kerja asing itu pulang lagi,” jelas Jokowi saat meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Lahendong Unit 5 dan 6, di Topaso Minahasa, Sulawesi Utara, Rabu (27/12/2016).

Tenaga kerja asing tersebut juga tidak ingin berlama-lama di Indonesia, karena lebih baik di negaranya sendiri dekat dengan keluarga. Selain itu, gaji di negara asal juga jauh lebih besar dibanding di Indonesia.

“Memang mereka juga senang kok kerja di negaranya sendiri, jangan dipikir kerja di sini mereka senang, tidak lebih baik di negara mereka sendiri, dekat dengan keluarga gajinya lebih besar dari negata kita,” ungkapnya.

Menurut Jokowi, kabar serbuan pekerja China tidak masuk logika, karena gaji di Indonesia masih jauh lebih rendah yaitu Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta, sedangkan di Tiongkok lebih dari Rp 5 juta.

“Logika itu sering tidak masuk, misalnya tenaga kerja dari Tiongkok di sini itu UMP Rp 2 juta, di sana Rp 5 juta lebih. Masa mereka senang kerja di sini. Logikanya tidak masuk mereka ada di sini, tapi awal sebuah proyek karena banyak hal yang belum kita tau teknologinya,” tutup Jokowi

 

 

 

About the Author