Kapolri: Ada Bukti Transfer Dana Bachtiar Nasir ke Turki

Liputan389.com¬†–¬†Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyebut ada bukti tarik dana dari rekening Yayasan Keadilan untuk Semua sebesar Rp 1 miliar yang mengalir ke Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir.

"Memang uang ini ditarik oleh IL (Islahudin Akbar) sebanyak Rp 1 miliar, kemudian diserahkan kepada Bachtiar Nasir. Sebagian digunakan untuk kegiatan menurut yang bersangkutan," ucap Tito di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (22/2/2017).
“Memang uang ini ditarik oleh IL (Islahudin Akbar) sebanyak Rp 1 miliar, kemudian diserahkan kepada Bachtiar Nasir. Sebagian digunakan untuk kegiatan menurut yang bersangkutan,” ucap Tito di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (22/2/2017).

 

Sedangkan sebagian uang lagi, jika dilihat dari slip bukti transfer, mengarah ke Turki. Polri masih menyelidiki aliran dana tersebut. Sebab, lanjut dia, ada media internasional yang menyebutkan uang itu diberikan kepada satu kelompok radikal di Suriah.

“Tapi sebagiannya, kalau dilihat dari slip bukti transfer mengarah Turki dan ini yang sedang kami selidiki,” kata Tito.

“Apa hubungannya bisa sampai ke Suriah? Menurut klaim media internasional yang di Suriah, ini ada hubungannya dengan ISIS,” tutur dia.

Menurut dia, polisi telah menyelidiki dugaan adanya bantuan logistik dari Yayasan Bantuan Kemanusiaan Indonesia (Indonesian Humanitarian Relief/IHR Foundation) tersimpan di gudang milik pemberontak Suriah.

“Begitu kita tarik ke belakang, ternyata ada aliran dana dari Bachtiar Nasir ini. Asalnya dari Yayasan Keadilan untuk Semua,” tegas Tito.

Sebelumnya, tersebar video yang memperlihatkan warga sipil Aleppo menemukan gudang logistik berupa makanan dan minuman yang dikirim dari Indonesia, namun ditinggalkan oleh kelompok teroris Jays Al-Islam. Pada dus logistik tersebut terlihat label bertulisan ‘IHR’.

Namun, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir, mengaku tidak ada penyalahgunaan dalam pengelolaan donasi di rekening Yayasan Keadilan Untuk Semua.

“Itu dananya dari umat untuk umat lagi,” kata Bachtiar Nasir.

Penjelasan Kapolri soal Tudingan Kriminalisasi Ulama

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjawab tudingan kriminalisasi ulama yang dilontarkan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir. Menurut dia, kasus-kasus tersebut didapat berdasarkan laporan dari masyarakat kepada Polri.

"Rizieq ada beberapa kasus yang dilaporkan ke Polri. Pertama, soal penghinaan Pancasila yang dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Kemudian kita lakukan pendalaman saksi-saksi. Saat ini sedang proses, berkoordinasi dengan jaksa penuntut umum," kata Tito saat rapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (22/2/2017).
“Rizieq ada beberapa kasus yang dilaporkan ke Polri. Pertama, soal penghinaan Pancasila yang dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Kemudian kita lakukan pendalaman saksi-saksi. Saat ini sedang proses, berkoordinasi dengan jaksa penuntut umum,” kata Tito saat rapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (22/2/2017).

Tak hanya itu, kasus kedua adalah Rizieq diduga terjerat dengan penyebutan adanya lambang palu arit di pecahan uang kertas baru.

“Sekali lagi ini adalah laporan dari masyarakat. Kalau ada laporan, Polri tentu menindaklanjuti,” tutur Tito.

Mantan Kapolda Papua ini menyebutkan, kasus-kasus Rizieq yang lain, seperti dugaan penistaan agama Kristen, penghinaan hansip, dan kasus chat porno dengan Firza Husein. Semua kasus tersebut, menurut Tito, masih dalam proses pendalaman.

“Kasus dengan Firza masih pemeriksaan ahli digital forensik, apakah foto itu benar atau tidak. Kemudian akan ditingkatkan apakah akan ada tersangka atau tidak,” jelas Kapolri Tito.

Sementara itu, kasus yang menjerat Ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir, Kapolri menyebut ada dugaan pelanggaran Undang-Undang (UU) Yayasan, UU Perbankan, dan tindak pidana pencucian uang.

About the Author