Fadli Zon Mengatakan Sangat Heran Ketika Ahok Dituntut Hukuman Hanya 2 Tahun Saja

Liputan389¬†–¬†Wakil Ketua DPR Fadli Zon heran dengan tuntutan hukuman 1 tahun penjara dengan hukuman percobaan 2 tahun kepada terdakwa kasus penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama / Ahok. Menurut Fadli, harusnya tuntutannya maksimal.

“Saya juga sangat heran ya, harusnya sesuai dengan yang ada,” kata Fadli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Liputan389 Kamis (20/4/2017).

Ahok didakwa dengan dua pasal di KUHP yaitu pasal 156 dan 156a. Pasal 156 KUHP mengatur ancaman pidana penjara paling lama empat tahun. Sementara pasal 156a KUHP mengatur ancaman pidana paling lama lima tahun.

Menurut Fadli, ahli hukum harus mendalami tuntutan itu. Alasan itu semata-mata kata Fadli untuk mengetahui apakah tuntutan wajar atau hanya karangan.

“Ya nggak tahu lah, mungkin harus didalami dulu oleh ahli hukum, apakah wajar, apa dibuat-buat. Kita ingin hukum sesuai dengan yang ada lah, seadil adilnya,” katanya.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dituntut hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Jaksa menilai Ahok terbukti menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan di muka umum terhadap suatu atau beberapa golongan.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun,” ujar jaksa dalam sidang di Jakarta Selatan hari ini.=

blob:https://www.vidio.com/98c64a15-6e5a-46f0-a339-d90e368c45a9

Politikus Dari PDIP Membela Ahok dari Serangan Hinah Oleh Fadli Zon Soal Tuntutan dari Jaksa

 

Politikus Dari PDIP Membela Gubernur DKI Basuki T Purnama / Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama

Liputan389 – Politikus Dari PDIP Membela Gubernur DKI Basuki T Purnama / Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama. Ini terkait dalam ucapan Waketum Gerindra Fadli Zon yang menduga ada rekayasa di balik tuntutan percobaan Ahok.

“Statement Fadli Zon bahwa masyarakat ingin Ahok dipenjara sudah merupakan bentuk upaya intervensi terhadap proses hukum yang sedang berjalan,” ungkap Charles kepada Liputan389, Jumat (28/4/2017).

“Masa keputusan pengadilan harus mengikuti tafsir semau-maunya Fadli Zon yang mengatasnamakan masyarakat?” sambung mantan Timses Ahok itu.

Charles mengaku heran dengan Fadli yang sebagai anggota dewan, dinilai tidak mempercayai proses hukum. Dia juga mempertanyakan makna pernyataan Fadli itu.

“Pertanyaan saya lagi masyarakat mana yang dimaksud? Saya juga bisa saja mengklaim bahwa masyarakat ingin Fadli Zon dicopot karena ngomongnya suka ngawur,” tutur Charles.

“Pilkada DKI sudah selesai tetapi Fadli Zon masih menunjukkan sikap kekanak-kanakan. Atau jangan-jangan Fadli Zon punya agenda lain dengan terus memojokkan Ahok dan menggoreng sentimen SARA?” imbuh anggota Komisi I DPR itu.

Charles pun mengimbau kepada semua pihak untuk tidak menimbulkan berbagai kontroversi usai Pilgub DKI selesai. Seperti diketahui, PDIP di Pilkada DKI lalu mengusung pasangan Ahok-Djarot Saiful Hidayat dan Gerindra mengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Versi hitung cepat, Anies-Sandi dinyatakan menang.

“Bapak-bapak politisi santun yang saya hormati, tolonglah berperilaku sebagai negarawan. Pilkada DKI sudah selesai. Sekarang waktunya fokus membangun Jakarta yang lebih baik,” ujar Charles.

Sebelumnya, Fadli Zon menduga ada rekayasa di balik ringannya tuntutan jaksa terhadap Ahok. Tuntutan hukuman percobaan 2 tahun terhadap Ahok menurutnya disengaja untuk meringankan gubernur DKI itu.

“Saya sangat setuju dan saya termasuk sependapat bahwa tuduhan dakwaan jaksa itu sangat terlihat menguntungkan terdakwa. Tuntutan ya yang sekarang ini kelihatan direkayasa dan dipermudah, diperingan,” kata Fadli di Gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (26/4).

Tuntutan jaksa terhadap Ahok, menurut Fadli, tidak sejalan dengan rasa keadilan masyarakat. Rasa keadilan masyarakat, ditegaskan Fadli, harus menjadi acuan dengan adanya gonjang-ganjing dan kegaduhan yang diakibatkan.

“Tiba-tiba nanti hukumannya hanya percobaan, dan dibebaskan. Saya kira ini membuat masyarakat tidak lagi percaya pada hukum, sementara pada kasus lain dengan yurisprudensi yang ada di hukum, seperti kasus Arswendo dan Musadeq,” beber Wakil Ketua DPR itu.

Ahok dituntut hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Jaksa menilai Ahok terbukti menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan di muka umum terhadap suatu atau beberapa golongan

Tags :

About the Author