Bupati Purwakarta Dihina di Facebook, Pelaku Dipenjara

0
42
views
Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mendapatkan komentar pedas dari Netizen di akun sosial media Facebook beberapa waktu lalu, bagaimana kelanjutan ceritanya?
Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mendapatkan komentar pedas dari Netizen di akun sosial media Facebook beberapa waktu lalu, bagaimana kelanjutan ceritanya?

Liputan389 – Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman 4 bulan penjara kepada warga Purwakarta, Ende Mulyana Aliyudin. Pria kelahiran 10 Februari 1985 itu terbukti menghina Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, di Facebook.

Kasus bermula saat Ende main internet di warnet Nur Alam di Jalan Kapten Halim Pesawahan, Purwakarta, Jawa Barat, pada 2009. Lewat akun N’Doen Poenya Dinnie, Ende aktif di tiga grup Facebook yaitu:

1. Grub Tentang Pilkada Purwakarta.
2. Grub ABUD (Asal Bukan Dedi Mulyadi).
3. Grub TPP (Tentang Pemilihan Bupati Purwakarta).

Pada 19 November 2012 pagi, Ende membuat tulisan di wall Facebook-nya yang ‘menyinggung’ kepemimpinan Dedi.

Sore harinya, tulisan Ende juga menulis di grup ABUD yang mengaitkan Bupati Dedi dengan PKI. Tak terima dengan tulisan tersebut, Dedi melaporkan Ende ke Polda Jabar. Ende pun harus berurusan dengan hukum. Tapi, dalam proses itu, Ende tak ditahan.

Pada 14 Mei 2014, Pengadilan Negeri Purwakarta menjatuhkan pidana 4 bulan kepada Ende. Majelis hakim meyakini Ende terbukti dengan sengaja membuat dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan pencemaran nama baik, sebagaimana dilarang dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Vonis itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Bandung pada 8 Juli 2014. Atas vonis itu, Ende tak terima dan mengajukan kasasi. Apa kata MA?

“Menolak permohonan kasasi terdakwa,” demikian lansir panitera Mahkamah Agung dalam website-nya, Jumat 16 Juni 2017.

Duduk sebagai ketua majelis adalah Hakim Agung Artidjo Alkostar dengan anggota hakim agung Suhadi dan hakim agung Andi Samsan Nganro. Menurut majelis, tulisan Ende tak dapat lagi dinilai sebagai kontrol sosial atau kritik membangun terhadap lingkungan aparat penyelenggara pemerintahan.

“Sebab, tulisan terdakwa sudah mengandung penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap saksi pelapor H Dedi Mulyadi, SH,” ucap majelis dengan suara bulat.

Penilaian atas tulisan, apakah itu bersifat menghina atau mencemarkan, merupakan masalah hukum yang tunduk pada penilaian hakim kasasi. Oleh karena itu, tulisan terdakwa yang menyebut antara lain:

‘…Dedi Mulyadi melakukan pemusyrikan dan memuja patung…seseorang PKI, keturunan Firaun…’

dan beberapa tudingan yang ditujukan kepasa saksi pelapor, namun terdakwa tak dapat membuktikan kebenarannya.

“Adalah termasuk penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap saksi pelapor,” ujar majelis kasasi.

Mahkamah Agung meyakini, tulisan di media sosial tak dapat dinilai sebagai karya jurnalistik. Oleh sebab itu, perbuatan Ende memenuhi unsur Pasal 27 Ayat 3 juncto Pasal 45 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Isi dari Pasal 27 Ayat 3 adalah:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik

Dan Pasal 45 mengancam pelaku:

Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Comments

comments