Perampok sekaligus penembak mati korban Davidson Tantono akhirnya ditembak mati polisi karena melawan saat ditangkap

Perampok Davidson Tantono Ditembak Mati Polisi

Liputan389 – Polisi menembak mati eksekutor penembakan terhadap Davidson Tantono (31). Perampok berinisial SP itu melakukan perlawanan saat hendak ditangkap polisi. Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Rudy Heriyanto Adi Nugroho mengatakan, SP terpaksa ditembak mati karena melawan.

“Ya, yang ditangkap eksekutor,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dihubungi tim redaksi Liputan389, Hari ini, Selasa, 20 Juni 2017.

“Merebut senjata api anggota. Kemudian anggota melakukan tindakan tegas dan terukur dengan menembak yang bersangkutan, karena dikhawatirkan membahayakan keselamatan petugas dan masyarakat lainnya,” kata Rudy.

Bermula saat SP ditangkap di Banyuwangi, Jawa Timur. Polisi meminta SP untuk menunjukkan senjata api yang digunakan untuk menembak Davidson Tantono. Sebab, tersangka mengaku membuang senjata api di jalan bypass Sidoarjo.

“Tersangka mengaku membuang senjata api di jalan bypass Sidoarjo,” kata Rudy.

Saat menunjukkan senjata api, SP malah mendekati seorang anggota. Kemudian, berusaha mencabut senjata api milik anggota yang mengawalnya. Komplotan perampok Davidson termasuk dalam jaringan penjahat di Lampung. Dua bulan terakhir beraksi, mereka merampok uang dengan total Rp1.181.800.000,00.

“Dia mau mencabut senjata api anggota sehingga ditembak secara tegas dan terukur,” ucap Rudy. “Saling kenal, dan kebanyakan satu desa, satu kampung. Mulai rampok dari April,” ujar Aris saat dikonfirmasi wartawan, Minggu 18 Juni 2017.

Komplotan tersebut melancarkan aksinya di 23 lokasi berbeda. Secara sistematis mengincar korban dengan modus menggembosi ban kendaraan. Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Aris Priyono menyebut, komplotan itu, berasal dari desa yang sama di Lampung.

Berdasarkan catatan kepolisian, sejak April 2017-Juni 2017, komplotan ini sudah malang melintang melakukan aksinya di lintas provinsi.

Komplotan ini memang dikenal sadis dan kerap melukai para korbannya. Tidak tanggung-tanggung, setiap kali beraksi komplotan ini bisa membawa hasil puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Seperti saat merampok di T‎angerang, komplotan ini mengantongi uang, dan ternyata sudah banyak lokasi perampokan mereka, diantaranya :

1. Cidahu Rp 60 juta

2. Cirebon Rp 60 juta

3. Rawa Buaya Rp 10 juta,

4. Pesing Rp 40 juta,

5. Jakarta Barat Rp 80 juta di ,

6. Bekasi Rp 800 ribu,

7. Pemda Bogor Rp 60 juta,

8. Kampung Melayu Rp 60 juta,

9. Cidahu Rp 31 juta,

10. Cirebon Rp 60 juta,

11. Kalijodo Rp 80 juta,

12. Cengkareng Rp 20 juta,

13. Taman Topi Rp 40 juta,

14. Ciawi Rp 60 juta,

15. Ciluwer Rp30 juta,

16. Kampung Melayu Rp 50 juta

17. Pasar Minggu Rp 70 juta,

18. Kalibata Rp 30 juta,

19. Tangerang Rp 20 juta,

20. Kedung Halang Rp 100 juta,

21. Kalimalang Rp 50 juta,

22. Cikarang Rp 150 juta, serta

23. Indovision, Jakarta Barat Rp 100 juta.

Polisi menengarai, komplotan perampok jaringan Lampung ini memiliki anggota lebih dari sepuluh orang. Polisi telah menangkap empat pelaku, yakni DTK, IR, TP, dan M. Mereka memiliki peran yang berbeda. DTK berperan sebagai pemantau di dalam bank. Sementara IR, berperan sebagai pemilih target.

Kemudian, TP berperan sebagai penggembos ban. Ia memasukan batang besi payung ke ban mobil Davidson. M, berperan sebagai penghambat. Ia mengendarai mobil Xenia untuk menghambat laju kendaraan Davidson. Sebelumnya, IR juga ditembak mati karena melakukan perlawanan terhadap petugas.

About the Author