Khatib yang sedang viral belakngan ini karena jemaahnya yang kabur setelah ia menyinggung soal penistaan agama.

Khatib Singgung Penista Agama, Jemaah Bubar

Liputan389 – Isi khotbah salat Idul Fitri di Alun-alun Gunungkidul, DI Yogyakarta menjadi perbincangan. Khatib Ichsan Nuriansah Bajuri sempat menyinggung kasus penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama (Pak Ahok) dalam isi ceramahnya.

Cerita salah satu jamaah salat Idul Fitri di Alun Alun Kota Wonosari Gunungkidul, Rohmad Santosa (47 tahun) warga Bejiharjo mengungkapkan saat mengikuti khotbah sehabis salat Idul Fitri, khatib menyinggung soal penistaan agama oleh mantan gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Pak Ahok).

Dia bersama empat orang anggota keluarganya sengaja salat Id di alun-alun kota Wonosari karena dekat berjarak kurang dari 500 meter dari rumahnya. Saat itu alun-alun penuh jamaah.

“Aku bersama lima orang anggota keluarga. 3 laki-laki dan juga dua perempuan,” katanya. “Banyak yang langsung bubar, keluar lapangan. Aku bersama keluarga langsung ke pinggir ke arah kantor kabupaten. Ternyata banyak juga yang meninggalkan alun-alun,” katanya.

Saat awalnya masih banyak jamaah yang terus mendengarkan khotbah, tapi sekitar 10 menit kemudian banyak jamaah yang meninggalkan lapangan dan langusng pergi nonton film. Menurutnya selama perjalanan pulang, beberapa warga sekitar membicarakan isi khotbah yang disampaikan oleh khatib.

“Banyak tetangga sehabis salat id, saat pulang yang membicarakan isi khotbah yang tidak pada tempatnya. Sampai rumah ya banyak yang ngomongkan soal itu,” kata Rohmad.

Ketua Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) Wonosari Gunungkidul, Iskanto menyayangkan materi khotbah Ichsan. Menurut dia sebenarnya apa yang disampaikan Ichsan faktual, tapi tidak layak di sampaikan ke masyarakat secara terbuka.

“Ya kalau buat dikonsumsi (masyarakat) umum kurang pas lah,” ujar Iskanto, Hari ini, Selasa 27 Juni 2017.

Menurut Iskanto seharusnya khotbah khatib menghindari materi isu-isu politik, apalagi isu tersebut dapat memecah belah masyarakat.

“Tapi memang isi materinya faktual,” sebutnya. Padahal seharusnya seorang khatib disebut Iskanto, dapat memilah materi apa yang pantas disampaikan ke masyarakat, agar khotbahnya tak menimbulkan polemik.

Iskanto melanjutkan, memang penunjukan Ichsan sebagai khatib di Alun-alun Gunungkidul tidak melalui proses seleksi, hanya asal tunjuk. Apalagi Ichsan dipandang sebagai orang berilmu dan juga biasa berkhotbah, apalagi Ichsan disebutnya aktif sebagai pengurus organisasi kemasyarakatan di DIY, dan juga engajar di salah satu kampus swasta di Yogya.

“Ya kami tidak menyangka isi khotbahnya seperti itu,” lugasnya. “Kalau pertimbangan kami memilih khatib (Ichsan) karena dia memang sudah biasa menyampaikan khotbah. Tapi kalau dia (Ichsan) menyampaikan khotbah seperti itu bukan jangkauan kami selaku PHBI. Tapi karena dia sendiri yang menyampaikan materi seperti itu,” tambah Iskanto.

Kontroversi khotbah yang disampaikan Ichsan juga disayangkan Bupati Gunungkidul, Badingah. Dia mengaku kecewa setelah mendengar ceramah yang disampaikan Ichsan. Hari pertama lebaran, Badingah memang mengikuti salat Idul Fitri di Alun-alun Gunungkidul. “Tidak menyangka, setelah mendengar ceramah buat berdiri saja sulit,” tutupnya.

About the Author