Alumni 212 meminta hasil pertemuan antara Jokowi dan juga GNPF-MUI

Alumni 212 Minta Hasil Pertemuan GNPF-MUI dan Jokowi

Liputan389 – Ketua Alumni 212, Ansufri Idrus Sambo, mengatakan tak mau berprasangka buruk terkait pertemuan yang dilakukan Tim 7 Gerakan Nasional Pengawal Fatwa GNPF-MUI dengan Presiden Joko Widodo pada Minggu 25 Juni 2017 lalu.

Alumni aksi 212, kata dia, adalah salah satu pihak yang mendukung penyelesaian kasus terhadap beberapa ulama dan aktivis Islam yang saat ini bergulir di Kepolisian. Namun dia mempertanyakan hasil dari pertemuan GNPF dengan Presiden Joko Widodo yang belum dikatakan oleh pihak GNPF.

“Kita enggak mau prasangka buruk, tapi kan persepsi orang kan gitu. Ternyata sampai sekarang hasilnya mana? Kan enggak pernah dipublikasi hasil yang pernah mereka diskusikan,” kata Sambo dia saat dikonfirmasi tim Liputan389, Rabu, 28 Juni 2017.

Ia mengatakan, jikalau memang sikap GNPF tiba-tiba berubah usai pertemuan itu maka yang akan mengalami kerugian adalah pihak GNPF sendiri. Sambo menegaskan bahwa pihak yang berjuang untuk ulama dan aktivis Islam bukan GNPF semata.

“Memangnya cuma GNPF yang jadi perwakilan umat, kan tidak, ada yan lain juga. Jadi kalau pemerintah istilahnya mau membungkam mereka, ya enggak ada gunanya, toh nanti umat bisa berpaling sama kami. Jadi kita bikin penyeimbang. Terserah nanti mana umat yang melihat yang konsisten sama perjuangan. Itu saja,” ujar Sambo.

Sebelumnya, sejumlah pengurus GNPF-MUI menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada hari Minggu 25 Juni 2017. Dalam pertemuan dibahas antara lain soal kasus yang membelit pemimpin FPI Habib Rizieq Shihab.

Alumni 212 Tak Mau Ikut GNPF-MUI Ke Istana Negara

Ketua Presidium Alumni 212, Ansufri Idrus Sambo, mengaku, Istana Negara pernah mengajak alumni 212 untuk bertemu. Ia mengaku mau bertemu dengan pihak Istana, seperti apa yang dilakukan tim 7 Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) pada Minggu 25 Juni 2017 lalu. Namun, pertemuan tidak dilakukan di Istana Negara.

“Ada (ajakan bertemu),” ujar dia saat dikonfirmasi tim redaksi Liputan389, Rabu 28 Juni 2017. “Tetap dengan prinsip kami, tidak mau (bertemu) di Istana. Kalau mau ketemu, tempat netral, harus diliput secara terbuka,” tuturnya.

Pria yang dikenal dengan panggilan Ustaz Sambo itu berkata, alumni 212 memiliki perbedaan dengan GNPF-MUI. Meski demikian, ia meyakini bahwa tujuan GNPF-MUI masih sejalan, yakni untuk membela para ulama dan aktivis Islam.

“GNPF dengan kami kan permainannya berbeda. Kami kan memang lebih banyak pada gerakan-gerakan politik sebenarnya. Analisa kami selalu analisa politik. Makanya kami bergabung dengan Pak Amien (Amien Rais), bergabung dengan tokoh politik lainnya,” tuturnya.

Ia menjelaskan, pertemuan di dalam Istana akan menimbulkan stigma negatif bagi pihak mereka, dari masyarakat yang selama ini mendukung. Sebab, ditakutkan pertemuan seperti apa yang dilakukan oleh GNPF bisa dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mencari keuntungan dalam kesempitan.

“Banyak pribadi-pribadi yang mau mengusahakan pertemuan, banyak yang mau main-main di tikungan. Itu makanya kami enggak mau. Kami sudah tunjuk Komnas HAM yang jadi mediator. Karena, kami tahu yang main begini bahaya,” ujarnya.

About the Author