Julianto mendapatkan orderan Fiktif dari Go-Food dan ternyata adalah kenalannya sendiri

Ini Dia Kronologi Julianto dan Orderan Fiktif Go-Food

Liputan389 – Beberapa jam sebelum ‘diteror’ dengan serbuan orderan fiktif Go-Food, Julianto mendapatkan pengalaman tidak mengenakkan dengan perempuan A yang menjebaknya. Dari tempat pertemuan, si perempuan lari ke kantor Julianto. Satu-satunya pertemuan Julianto dengan A terjadi pada Senin 3 Juli lalu. Pertemuan dilakukan di Gramedia Matraman.

Menurut Julianto, itu merupakan pertemuan pertama kali setelah dia dan A berinteraksi via medsos dan WhatsApp sejak Mei 2017. Keduanya kenal dari pertemanan para pencari kerja.

“Jadi pas ketemu itu, di Gramedia, Aku masih baik ketemu. Aku tanya ngapain ke sini maksudnya ada apa. Terus tiba-tiba dia lari ke Danamon. Dia tanya satpam luar, menanyakan Aku kerja di lantai berapa. Sampai akhirnya tahu Aku kerja di lantai 5. Habis korek info itu, dia keluar,” ujar Julianto saat ditemui tim redaksi Liputan389 di rumahnya di Matraman, Jaktim, Jumat 7 Juli malam.

Bank Danamon Matraman yang dimaksud adalah tempat kerja Julianto. Saat A masuk ke halaman, Julianto menunggu di luar.

“Di luar Danamon, Aku masih tunggu, Aku coba bilang baik-baik, sini terlebih dahulu, orang tua Aku bakal datang, dia terus langsung naik ke Mikrolet dan langsung pulang setelah tahu kerja Aku. Pas sorenya, sekitar jam 3, orderan Go-Jek pada datang,” ujar Julianto.

“Senin-nya Aku yang bayar. Selasa itu juga Aku langsung ke kantor Go-Jek buat laporan. Soalnya, orderan masih datang. Aku mohon-mohon supaya orderan ke Danamon dihentikan. Cuma, prosesnya lama. Hari Selasa sampai Kamis masih ada Go-Food yang datang,” kata Julianto.

‘Teror’ order fiktif itu dimulai sejak Senin 3 Juli 2017 sore hari sampai Kamis kemarin 6 Juli 2017. Untuk orderan hari Senin dibayar oleh Julianto.

“Di kantor, teman-teman kasih report kalau orderan Go-Food masih terus datang, bahkan semuanya sudah dibayarkan sama teman-teman.

Mungkin karena kewalahan finansial, teman-teman angkat tangan dan kita mulai menolak orderan yang datang. Beberapa struk juga masih di-keep sama teman-teman kantor. Nah, mulai dari situ, driver Go-Jek nggak terima dan di-share ke grup FB ojek online soal tolakan bayar order sampai-sampai dikirim juga ke rumah sampai hari Kamis,” sambungnya.

Menanggapi kasus Julianto ini, pihak Go-Jek angkat bicara. Mereka meminta agar order fiktif tidak dilakukan. Julianto yang menjadi korban order fiktif pemesanan makanan melalui ojek online mengaku sudah melaporkan kejadian tersebut kepada polisi.

Polisi mengatakan belum menerima laporan Julianto, namun polisi tetap berusaha akan menyelidiki kasus tersebut.

“Belum ada laporan tentang itu. Makanya kita cek terlebih dahulu akan diselidiki,” Kata Kapolres Jakarta Timur, Kombes Andry Wibowo saat dihubungitim Liputan389, Jumat 7 Juli 2017 malam.

Berdasarkan informasi ada kurang lebih 10-15 orang driver Go-Jek mengantarkan pesanan atas nama Julianto ke kantornya.

Setiap pesanan, jumlahnya tak sedikit, di kisaran Rp 200 ribu. Andry pun menegaskan polisi akan memfollow up kasus tersebut karena sudah sering terjadi. Andry menyebut dirinya telah memerintahkan jajarannya untuk mengusut kasus tersebut. “Aku sudah perintahkan Kasat Reskrim untuk menyelidiki,” kata Andry.

“Tapi nggak apa-apa kalau kasus seperti itu kan, kalau kasusnya banyak dan sering terjadi tak perlu lapor polisi kita akan lihat, kita akan follow up,” katanya.

Diketahui, kisah mengenai para driver ojek online yang menjadi korban order fiktif ramai dibicarakan sejak Kamis 6 Juli 2017. Dalam posting-an itu disebutkan bahwa order fiktif dialamatkan kepada seseorang bernama Julianto, yang bekerja di Bank Danamon Cabang Matraman, Jakarta Timur.

“Lalu pada Mei 2017 tiba-tiba dia update status tentang permasalahannya, mulai soal dia janda, hartanya dibawa kabur suaminya. Ya, Aku lewat chat mesengger bilang sabar-sabar, jodoh pasti nggak akan ke mana,” kata Julianto saat ditemui tim Liputan389 di rumahnya di Matraman, Jaktim, Jumat 7 Juli 2017 malam.

Sedangkan Julianto tidak pernah memesan makanan dalam jumlah banyak. Julianto pun angkat bicara mengenai ‘teror’ order fiktif Go-Food yang ditujukan kepada dirinya. Menurut Julianto, pelakunya adalah seorang perempuan yang dia kenal.

Julianto menyebut nama perempuan berinisial A. Dia mengenal perempuan ini sejak tahun 2016 melalui media sosial. Julianto telah melaporkan perempuan ini ke Polsek Jatinegara. Dia berharap polisi bisa mengusut tuntas kasus ini.

About the Author