Pria ini memiliki kelainan karena menikahi boneka seks cantik miliknya sendiri

Pria Tampan Ini Nikahi Boneka Seks Cantik

Liputan389 – Meningkatnya penggunaan boneka seks oleh para lelaki Jepang menimbulkan kekhawatiran. Apalagi, kini sudah ada para lelaki yang tidak hanya melampiaskan hasrat seks melalui boneka, namun juga menikahi boneka tersebut. dr Andri, SpKJ, FAPM, dari Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, mengatakan sejatinya penggunaan boneka seks adalah untuk melampiaskan kebutuhan biologis yang sulit tersalurkan. Sehingga, fungsinya adalah sebagai alat bantu atau mainan seks semata.

“Kalau boneka seks digunakan seperti masturbator yang berbentuk vagina sebagai alat bantu ketika pasangan tidak ada, ya tidak masalah. Tapi kalau sudah sampai ingin hidup bersama bonekanya, sampai jatuh cinta dan ingin menikah dengan bonekanya itu ya bisa disebut mengalami masalah kejiwaan,” tutur dr Andri kepada tim Liputan389.

Menurut UU Kesehatan Jiwa No.18 tahun 2014, orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan dan atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.

Hal ini berbeda dengan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang diidentifikasi sebagai orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang bermanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan atau perubahan perilaku yang bermakna serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Dikatakan dr Andri, masalah kejiwaan yang dialami oleh para lelaki yang menikahi boneka seks bisa berupa rasa percaya diri atau rendah diri yang sangat kuat. Hal ini mendorong mereka untuk menjauhi kontak sosial dengan perempuan ataupun manusia lainnya.

Selain itu, orang dengan masalah kejiwaan juga rentan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma dan etika di masyarakat. Menikahi benda mati, apapun bentuknya, tentu saja tidak sesuai dengan norma dan etika budaya ketimuran seperti di Jepang.

“Karena pada dasarnya manusia kan harus berhubungan (seks) dengan manusia juga, bukan dengan mati. Dibikin semirip apapun (boneka dan robot seks) tetap saja benda mati, tidak bisa menggantikan manusia,” tambahnya lagi.

Boneka Seks Makin Banyak Diminati

Semakin berkembang pesat dunia teknologi, semakin beragam pula produk-produk yang diciptakan. Boneka seks salah satunya, yang dibuat hampir sempurna menyerupai manusia. Dikutip dari New York Post, Kamis 6 Juli 2017 bahwa setiap tahunnya sebanyak dua ribu boneka seks terjual habis di Jepang. Harganya dibandrol mulai dari 6 ribu US dollar atau setara dengan 80 juta rupiah. Harga yang fantastis untuk memenuhi kebutuhan seksual para para lelaki.

“Mereka terlihat sangat nyata sekarang dan rasanya seperti menyentuh kulit manusia. Lebih banyak para lelaki membelinya karena mereka merasa bisa benar-benar berkomunikasi dengan boneka itu,” ujar Hideo Tsuchiya, manager pembuatan robot Orient Industry, Jepang.

Boneka seks kerap dibeli oleh para lelaki cacat dan duda, dan sebagian beranggapan bahwa menggunakan boneka seks ini bisa menghindarkannya dari rasa sakit hati terhadap perempuan.

Beberapa para lelaki di Jepang menganggap boneka seks ini jauh lebih baik dibandingkan istrinya. Masayuki Ozaki (45 tahun) contohnya, ia mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan boneka seks yang ia beri nama Mayu, kemudian ia membelinya.

“Istri Aku sangat marah saat pertama kali Aku membawa pulang Mayu. Setiap hari dia tidak tahan dengan itu,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa mulai merasa kesepian karena berhenti berhubungan seks dengan istrinya pasca melahirkan, maka dari itu ia mengalihkannya kepada boneka seks yang ia beli. Sama halnya dengan Senji Nakajima (62 tahun) yang menamai boneka seksnya Saori. Ia mengaku telah menemukan cinta sejati yang tidak akan mengkhianatinya.

“Aku tidak akan pernah mengkhianatinya, bahkan dengan seorang pekerja seks sekalipun, karena bagi Aku dia manusia,” ujar Nakajima.

Maraknya hal ini membuat para ahli khawatir dengan tingkat kelahiran di Jepang yang bisa menurut. Hal ini menimbulkan masalah serius bagi masa depan ekonomi Jepang karena jumlah pekerja pun akan berkurang. Selain boneka seks, ada juga robot seks yang lebih ultra-realistis. Beberapa di antaranya bahkan bisa berbicara.

About the Author