Pihak Kepolisian sudah memiliki data pelaku order fiktif go food yang menimpa Julianto

Polisi Dapatkan Data Pelaku Order Fiktif Go Food

Liputan389 – Polisi menyebut telah mengantongi identitas pelaku pemesan order Go Food fiktif yang mengatasnamankan Julianto Sudrajat. Namun pemilik identitas tersebut tidak hadir ketika dipanggil polisi. Andry tidak menjelaskan secara detail mengenai identitas pemesan orderan fiktif tersebut. Menurut Andry identitas tersebut diperoleh hasil dari pemeriksaan beberapa saksi.

“Identitas dari pemesan fiktif juga sudah kita dapat. Namun sudah kita kirim surat panggilan pertama tidak datang,” kata Kapolres Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo kepada Liputan389, Minggu 30 Juli 2017 malam.

Andry mengatakan akan melayangkan surat panggilan kedua untuk pemilik identitas pemesan orderan fiktif tersebut. “Panggilan kedua segera akan disampaikan,” ujar Andry. Seperti diketahui, Julianto Sudrajat dan Dafi mendapatkan teror order fiktif Go Food yang dialamatkan kepada keduanya beberapa waktu yang lalu. Teror order fiktif tersebut dilatarbelakangi persoalan asmara.

“Kami sudah periksa seluruh saksi tukang ojek online yang diorder oleh orang yang mengaku atas nama Julianto dan rekan-rekan Julianto di Bank Danamon Matraman,” ucap Andry.

Kedua orang itu pun menyebut nama Sugiarti, warga Kayu Manis, yang dituduh sebagai dalang teror order fiktif tersebut. Julianto dan Dafi pernah terlibat asmara dengan Sugiarti. Namun Arti membantah tuduhan itu. Arti menegaskan tidak pernah melakukan teror fiktif tersebut.

Driver Gojek Minta Pelaku Order Fiktif Diproses Hukum

Driver Gojek bernama Erik yang jadi korban permainan order fiktif meminta pelaku diproses secara hukum. Menurutnya perbuatan order fiktif menjadi musibah bagi para driver Gojek.

“Pelaku harus sampai ngejeblos penjara biar masyarakat pengguna Gojek ini enggak bisa ngikutin cara si pelaku. Entar kalau ada abang galau ngikutin order ke siapa buat ngerjain iseng doang. Buat dia iseng buat kita (Gojek) musibah,” kata Erik di basekamp Gojek di Taman Amir Hamsah, Jl Taman Matraman Timur, Pegangsaan, Jakarta Pusat, Selasa lalu..

Menurutnya, tindakan order fiktif sangat merugikan driver Gojek. Apabila memang pelaku tidak mendapat hukuman, Erik khawatir tidak ada efek jera dan akan ada pelaku lain melakukan order fiktif. Menurutnya modus yang dilakukan pelaku untuk order fiktif dapat mengecoh para driver Gojek. Untuk itu, Erik menyarankan teman-teman sesama driver Gojek agar lebih berhati-hati.

“Mending belanjanya Rp 200 ribu kalau sebelumnya ada yang Rp 600 ribu bisa berantem Gojek sama bininya. Kalau Aku pribadi berharap pelaku sampai kena hukum. “Kalau buat Gojek, misalnya order kayak ni pelaku ini pasti kena bang. Karena pas konfirmasi pasti angkat terus bilang ‘okeh Pak langsung anter saja’, Aku sudah buat note di situ segala macem. Buat Gojek yang lagi haus order pasti bilang ‘oke siap bu’, pasti, mau sarjana atau siapapun kejebak pasti,” lanjut Erik.

“Kalau dibilang hati-hati kita juga sudah hati-hati. Gimana ya, kalau yang modusnya kayak pelaku ini pasti kena susah bang, sarannya lebih hati-hati saja,” tuturnya.

Erik menerima order yang dialamatkan ke Julianto Sudrajat di Bank Danamon Matraman, Jakarta Timur. Bukan Julianto pada Rabu 5 Juli lalu yang ternyata fiktif. Order Go Food yang diterimanya berupa dua porsi Sate Khas Senayan dengan total pembelanjaan sebesar Rp 232.500.

Julianto menyebut nama Arti sebagai pelaku di balik order fiktif itu. Dafi, seorang petugas PPSU yang namanya juga dicatut pun menyebut nama yang sama. Namun, Arti membantah tuduhan itu.

About the Author