Secara mengejutkan hary tanoesoedibjo membuat keputusan aneh dengan mendukung Jokowi di Pilpres 2019

Ini Dia Maksud Dukungan Hary Tanoe Dukung Jokowi di Pilpres 2019

Liputan389 – Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo siap mendukung Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019. Meski mengejutkan sejumlah pihak, Partai Gerindra tak menganggap manuver HT sebagai suatu hal yang spesial.

“Itu pilihan politik. Kita hormati pilihan politik partai, masing-masing partai, politik itu kan dinamis,” ujar Waketum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad dalam perbincangan dengan reporter Liputan389, Kamis 3 Agustus 2017.

Perindo dan HT selama ini diketahui dekat dengan partai-partai oposisi, termasuk Gerindra. Karena itu, manuver HT kali ini memang cukup mengejutkan. Dasco menyebut pihaknya tak mempermasalahkan hal itu.

“Dulu PAN keluar dari koalisi permanen Merah Putih, sampai sekarang tetap kita hormati. Apalagi Perindo, yang tidak pernah ada di koalisi permanen. Tak ada ikatan koalisi. Kita hanya berkawan,” tutur anggota Komisi III DPR itu.

Kehilangan Perindo untuk Pilpres 2019 juga tidak terlalu dipermasalahkan Gerindra. Partai pimpinan Prabowo Subianto itu sudah punya strategi tersendiri.

“Kita juga punya itung-itungan dong, kalau ada kurang sedikit, bisa ambil potensi dari yang lain. Kita tak mau bergantung dengan partai lain. Bebas-bebas aja. Yang penting kita dukungan dari rakyat,” ucap Dasco.

Seperti diketahui, Hary Tanoe mempertimbangkan mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019. Pertimbangan Hary Tanoe untuk mendukung Jokowi disebut murni karena satu visi.

“Ketua Umum memberikan pesan kepada publik bahwa Partai Perindo sedang mempertimbangkan untuk pencapresan dan dukungan ke Pak Jokowi,” ucap Sekjen Perindo Ahmad Rofiq, Rabu 2 Agustus 2017.

Partai Perindo memastikan langkah Hary Tanoe mendukung Jokowi tidak berkaitan dengan kasus yang tengah mendera bos MNC Group itu. Hary Tanoe diketahui berstatus tersangka dalam kasus SMS yang diduga bernada ancaman terhadap jaksa Yulianto. Dia dijerat Undang-Undang ITE. Hary Tanoe membantah anggapan mengirim SMS ancaman kepada Yulianto.

Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) disebut melakukan manuver politik dengan mendukung Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. Namun Sekjen Partai Hanura Sarifuddin Sudding menilai hal tersebut adalah hak setiap partai.

“Itu hak partai masing-masing untuk memberikan dukungan terhadap sesorang. Artinya ada mekanisme di partai yang Aku kira bisa memilih keputusan seperti itu. Dan Hanura selalu menghormati dan Hanura tidak akan melakukan intervensi,” kata Sudding di Hotel Stones, Legian, Badung, Bali, Kamis 3 Agustus 2017..

Sudding menyebut dukungan tersebut bisa memberikan kekuatan untuk menghadapai Pilpres nanti. Dia mengatakan bila Perindo lolos dala Parliamentary Threshold akan sangat membantu pencalonan Jokowi.

“Semakin banyak dukungan ke calon presiden di 2019 itu akan semakin baik. Paling tidak memberi kekuatan parlemen ketika misalnya partai yang memberi dukungan ini lolos di PT dalam pemilu 2019,” sebutnya.

Disinggung mengenai kemungkinan bahwa HT mencari jalan lolos dari jerat hukum, Sudding enggan menanggapinya. Ia mengatakan hanya HT dan Perindo yang bisa membuktikan hal tersebut di kemudian hari.

“Aku kira yang paling berhak menjawab itu Perindo sendiri. Apa niatnya untuk motivasi memberikan dukungan ke Jokowi Aku kira Perindo yang bisa menjawab itu,” tuturnya.

Sudding yakin Jokowi akan mempertimbangkan dengan matang dukungan yang diberikan Perindo. “Aku kira memang apakah menjadi beban atau tidak menjadi beban Aku kira presiden punya pertimbangan kan,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, dukungan Perindo pada Jokowi bak petir di siang bolong. Hary Tanoe, yang cenderung dekat dengan parpol luar pemerintahan, kini bakal mendukung Jokowi di Pilpres 2019.

“Ketua Umum memberikan pesan kepada publik bahwa Partai Perindo sedang mempertimbangkan untuk pencapresan dan dukungan ke Pak Jokowi,” kata Sekjen Partai Perindo, Ahmad Rofiq, kepada wartawan, Rabu 2 Agustus lalu.

Banyak yang bertanya apakah ini terkait dengan kasus hukum yang sedang dijalani HT. Namun secara tegas Perindo menyatakan bahwa hal tersebut tidak ada kaitannya dengan mendukung Joko Widodo.

“Tidak ada urusan dengan itu. Ini kan politik dan kebangsaan. Tidak bisa diterjemahkan dengan kasus apa pun. Beliau punya semangat mengabdi dan loyalitas kepada bangsa ini,” jelas Ahmad Rofiq.

Hary Tanoe sendiri pada Pemilu 2014 diusung oleh Hanura sebagai Cawapres untuk mendampingi Wiranto. Saat itu Hary Tanoe merupakan kader Hanura yang akhirnya membentuk partai sendiri karena berbeda haluan.

Wakil ketua DPR Fadli Zon melihat ada kecenderungan dukungan ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo ke Jokowi berkaitan dengan kasus hukum yang membelitnya. Meski demikian, ia tidak mau menduga-duga lebih jauh.

Hary Tanoe diketahui berstatus tersangka di kasus SMS yang diduga bernada ancaman terhadap jaksa Yulianto. Dia dijerat Undang-Undang ITE. Hary Tanoe membantah mengirim SMS ancaman terhadap Yulianto.

“Aku tidak mengatakan itu tetapi ada satu pola kecenderungan seperti itu. Polanya itu seperti stick and carrot, kalau tidak nurut dikasih stick kalau mau dikasih carrot. Aku kira ini adalah cara-cara kekuasaan ketimbang cara-cara menegakkan hukum,” kata Fadli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis 3 Agustus 2017.

“Cuma memang ada kecenderungan sekarang ini banyak orang-orang yang berbeda atau mungkin institusi, lembaga-lembaga bahkan partai politik yang berbeda posisi itu lebih mengalami tekanan lah,” tambahnya.

Waketum Gerindra ini mengatakan, persoalan hukum dapat dijadikan alat untuk menekan sekaligus merangkul parpol. Dukungan Perindo pada Jokowi bak petir di siang bolong. Hary Tanoe, yang cenderung dekat dengan parpol luar pemerintahan, kini bakal mendukung Jokowi di Pilpres 2019.

“Tekanan macam-macam termasuk persoalan-persoalan yang menyangkut hukum. Hukum bisa dijadikan satu alat untuk menekan partai politik dan juga sekaligus merangkulnya dan Aku kira ini akan membahayakan demokrasi karena dijadikan alat gitu bagi hal-hal seperti itu,” terang Fadli.

“Ketua Umum memberikan pesan kepada publik bahwa Partai Perindo sedang mempertimbangkan untuk pencapresan dan dukungan ke Pak Jokowi,” kata Sekjen Partai Perindo, Ahmad Rofiq, kepada wartawan, Rabu 2 Agustus lalu.

“Tidak ada urusan dengan itu. Ini kan politik dan kebangsaan. Tidak bisa diterjemahkan dengan kasus apa pun. Beliau punya semangat mengabdi dan loyalitas kepada bangsa ini,” jelas Ahmad Rofiq.

Banyak yang bertanya apakah ini terkait dengan kasus hukum yang sedang dijalani HT. Namun secara tegas Perindo menyatakan bahwa hal tersebut tidak ada kaitannya dengan mendukung Joko Widodo.

About the Author