Muhammad Zulkiram anggota polisi Aceh yang mengaku nyogok demi masuk polisi

Kisah Muhammad Zulkiram yang Masuk POLRI Dengan Nyogok

Liputan389 – Muhammad Zulkiram yang menjadi anggota Polri karena menyogok merasa keanggotaannya tidak membawa berkah. Dia pun memilih mundur dari Korps Bhayangkara setelah 7 tahun bertugas. Benarkah sogok menyogok untuk masuk Polri sudah menjadi tradisi?

Zulkiram resmi diangkat menjadi bagian dari Korps Bhayangkara pada 2007 silam. Niat menjadi Polisi ada karena sang ibu sangat menginginkan anaknya menjadi polisi. Dia pun tau Ibunya memilih jalur menyogok untuk memuluskan langkah anaknya menjadi seorang polisi. Saat itu Zulkiram membayar puluhan juta rupiah agar diterima menjadi anggota Polri. “Bayar berpuluh-puluh juta,” sebutnya.

“Ikut-ikut saja, tapi Aku tahu sih, pasti nyogok, pasti lewat, tapi Aku ikut-ikut saja. Orang nggak tahu agama, salat juga nggak. Itu perintah dari orang tua juga jadi polisi,” ujar Zulkiram kepada Liputan389, Senin 7 Agustus 2017.

Zulkiram pun memulai karirnya sebagai anggota Polri dengan bertugas di Satuan Intelkam Polres Aceh Timur. Karirnya berlanjut dengan diangkat menjadi ajudan Kapolres Aceh Timur. Puncak karirnya pun saat dirinya bertugas di Direktorat Tahanan dan Barang Bukti Polda Aceh.

Pria yang akrab disapa Joekhana ini kemudian memutuskan mundur dari anggota Polri pada Desember tahun 2014. Dia merasa 7 tahun menjadi seorang polisi tidak membawa berkah baginya karena menyogok di awal. Kala itu pangkat terakhirnya adalah Briptu.

Begitu tekad untuk resign telah bulat, Zulkiram disarankan untuk menunggu sampai waktu dinasnya mencapai 10 tahun. Hal tersebut agar bisa mengambil pensiun dini dan tak dipecat.

“Aku tanya teman, katanya belum bisa sebelum 10 tahun dinas. Aku kan baru 7 tahun dinas. Aku putuskan untuk langsung berhenti saja. Kan nanti jadi pelanggaran disiplin, kalau pelanggaran disiplin berturut-turut kan nantinya dipecat,” ungkap Zulkiram.

“Terus Aku resign. Aku kena pelanggaran kode etik Polri. Nggak apa-apa lah diberhentikan hormat nggak hormat yang penting Aku keluar. Setelah itu Aku lebih dalam lagi mempelajari agamanya,” tambahnya.

Zilkiram memutuskan keluar dari anggota Polri juga untuk fokus mempelajari agama. Keputusan ini langsung ditentang keluarga dan bahkan sang ibu sempat tidak mengajaknya berbicara selama sebulan penuh.

“Banyak yang menentang. Ibu Aku terutama. Aku kan memang sudah tak punya ayah, beliau meninggal ketika Aku kecil. Dan Aku anak cowok satu-satunya di keluarga,” katanya.

Sang ibu, yang sangat berharap anaknya menjadi polisi, sempat kecewa berat. Zulkiram menyadari betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan ibunya agar dia bisa menjadi bagian dari Korps Bhayangkara.

“Jadi diharapkan banget punya pekerjaan tetap gitu. Ibu Aku guru, beliau banyak berkorban untuk saya. Termasuk soal mendaftar ke polisi. Dia paling kecewa. Didiamkan sampai sebulan,” tuturnya.

Kisah hijrah Zulkiram dari anggota Polri ini memunculkan pertanyaan, benarkah sogok menyogok menjadi anggota Polri sudah tradisi? Mabes Polri pun angkat bicara menanggapi cerita Zulkiram.

“Bagus ada pemberitaan seperti ini untuk menyadarkan semuanya. Bahwa perbuatan suap untuk upaya apa pun juga haram hukumnya,” kata Asisten SDM Kapolri Irjen Arief Sulistyanto kepada Liputan389, Senin 7 Agustus 2017.

“Dan sudah Aku terapkan dalam program rekrutmen tahun 2017 ini sejak Aku diberi amanah sebagai As SDM Kapolri,” ujar Arief.

Arief mengatakan, sejak Jenderal Tito Karnavian menjadi Kapolri, sudah ada kebijakan tegas tak boleh ada praktik KKN dalam program apa pun, termasuk proses rekrutmen. Tak boleh ada praktik suap, sogok-menyogok, koneksi, dan sponsorship di tubuh Polri.

Arief juga mengimbau anggota yang masuk Polri dengan cara curang agar segera sungguh-sungguh bertobat. menurutnya rejeki yang didapat dengan curang adalah suatu keharaman.

“Segera taubat nasuha dan tidak melakukan dosa lagi. Karena semua penghasilan dari profesi, yang diperoleh dengan cara nyogok, adalah haram,” katanya.

Sementara itu Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Goenawan membantah kabar Zulkiram berhasil diterima sebagai anggota polisi setelah menyuap panitia. Menurutnya, proses penerimaan anggota polisi dilakukan secara transparan dan ada pengawas eksternal.

“Tidak benar, dia Zulkiram bisa dituntut apabila memang tidak bisa membuktikan,” kata Goenawan kepada reporter Liputan389, Senin 7 Agustus 2017 malam.

“Rekrutmen Polri bersih, transparan, akuntabel, ada pengawas eksternal. Hasil tes diumumkan langsung, divideokan. Boleh komplain apabila memang tidak puas,” jelas Goenawan. “Zul itu dipecat, ndak masuk dinas, kok sekarang bilang nyogok. Aku cek memang dipecat, malas dinas,” ungkap Genawan.

Gunawan membenarkan apabila memang Zulkiram dipecat dari anggota Polda Aceh karena tidak masuk dinas. Namun pihaknya mempertanyakan Zulkiram yang mengaku keanggotaannya tidak berkah setelah dipecat.

Menurut Goenawan, sebelum dipecat, Zulkiram tidak masuk dinas lebih dari 30 hari berturut-turut secara tidak sah. Pihak kepolisian kemudian melakukan sidang etik untuk memutuskan nasib Joekhana.

“Zul tidak masuk dinas lagi, makanya disidang komisi kode etik Polri selanjutnya diberhentikan dengan tidak dengan hormat atau dipecat,” jelas Goenawan.

“Setelah dipecat, baru ngomong tidak berkah, gaji yang dimakan mulai 2007 dengan 2014 itu berkah apa tidak?” pungkasnya.

Muhammad Zulkiram mengaku resign dari Korps Bhayangkara setelah tujuh tahun berdinas. Ia menilai pekerjaannya tidak berkah karena lulus dengan suap atau nyogok. Kepolisian Daerah Aceh buka suara terkait status terakhir pria yang akrab disapa Joekhana tersebut.

“Zul itu dipecat, ndak masuk dinas, kok sekarang bilang nyogok. Aku cek memang dipecat, malas dinas,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Goenawan kepada Liputan389, Senin 7 Agustus 2017 malam.

Menurut Goenawan, sebelum dipecat, Zulkiram tidak masuk dinas lebih dari 30 hari berturut-turut secara tidak sah. Pihak kepolisian kemudian melakukan sidang etik untuk memutuskan nasib Joekhana.

“Zul tidak masuk dinas lagi, makanya disidang komisi kode etik Polri selanjutnya diberhentikan dengan tidak dengan hormat atau dipecat,” jelas Goenawan.

“Setelah dipecat, baru ngomong tidak berkah, gaji yang dimakan mulai 2007 dengan 2014 itu berkah apa tidak?” ungkap mantan Wadir Lantas Polda Aceh tersebut.

Zulkiram diberhentikan sebagai polisi pada Desember 2014. Menurut Zulkiram, saat masuk polisi pada 2007, ia berhasil lolos dengan menyuap. Karena itulah dia mengaku memutuskan keluar dari Korps Bhayangkara.

“Terus Aku tahu kalau nyogok itu haram. Aku tahu kalau masuk kerja dengan cara nyogok haram. Itu gelisah saya. Berpikir, berpikir, berpikir. Desember 2014 baru Aku memutuskan untuk resign,” kata Zulkiram saat dihubungi redaksi Liputan389.

Begitu tekad resign telah bulat, Zulkiram disarankan menunggu sampai waktu dinasnya mencapai 10 tahun. Hal tersebut agar bisa mengambil pensiun dini dan tak dipecat.

“Aku tanya teman, katanya belum bisa sebelum 10 tahun dinas. Aku kan baru 7 tahun dinas. Aku putuskan langsung berhenti saja. Kan nanti jadi pelanggaran disiplin, kalau pelanggaran disiplin berturut-turut kan nantinya dipecat,” ungkap Zulkiram.

About the Author