Tampang Oknum TNI yang pukul Polisi Lalu Lintas karena ditilang

TNI yang Pukul Polantas Masuk Penjara

Liputan389 – Anggota TNI Korem 031 Wiba Bima, Serda Nopriadi Wira Sinaga, yang memukul anggota Polantas Pekanbaru, kini ditahan. Anggota tersebut dijebloskan ke sel Detasemen Polisi Militer 1/3 Kodam I Bukit Barisan di Pekanbaru.

Berdasarkan pantauan wartawan, Jumat 11 Agustus 2017, Komandan Korem WB Brigjen TNI Abdul Karim bersama jajarannya meninjau langsung ke ruangan tahanan di Denpom Pekanbaru di Jl A Yani, Pekanbaru.

Serda Wira Sinaga dalam sel mengenakan baju kuning dengan kaki dan tangan diborgol. Anggota ini sendirian dalam sel. Dalam kesempatan ini, Danrem WR Brigjen Abdul Karim menegaskan bahwa anggota yang melakukan tindakan yang melanggar ketentuan tetap ditindak tegas.

“Benar, anggota kita ini telah memukul anggota Polantas sebagaimana video yang telah viral,” kata Abdul Karim. “Ya ini tetap akan kita proses. Benar, waktu kejadian anggota kita tidak menggunakan helm dan memukul anggota Polantas itu,” tutur Abdul Karim.

Orang nomor satu di jajaran TNI di Riau ini menyebutkan anggota tersebut tetap akan menjalani proses hukum. Serda WS, oknum TNI yang mengamuk dan memukul polantas di Pekanbaru, Riau diketahui mengalami gangguan jiwa. Dia seringkali bertindak aneh dalam beberapa bulan terakhir. Namun beda ketika ia eksis di media sosial. WS sering berselfie ria dan menonjolkan sisi kerennya.

Hal itu terlihat dari foto-foto yang diunggah WS di Instagram. Mayoritas foto yang diposting WS tengah menggunakan pakaian dinas. Selain itu, ia juga kerap kali bergaya sambil memakai kaca mata hitam.

Tak cuma eksis dengan kacamata hitamnya, WS juga berpose di depan mobil dinas TNI. Sambil menaruh tangan di atas pinggang, WS pun menampilkan sisi narsisnya.

WS diketahui bertugas di Korem Pekanbaru dengan jabatan sersan dua (Serda). Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Edi Hartono mengatakan WS kerap bertingkah aneh dalam beberapa bulan terakhir.

“Yang bersangkutan itu dalam tanda kutip terganggu kejiwaannya. Beberapa kali itu dia tidak masuk kerja. Ke kantor gitu dia pakainya preman sendiri. Mengalami depresi lah. Dia tugas di Korem Pekanbaru,” ujar Edi saat dikonfirmasi tim reporter Liputan389, Kamis 10 Agustus.

Meski agak mengalami gangguan jiwa, namun WS masih tetap berdinas dan tidak diberhentikan dari satuannya. Edi mengatakan, TNI tidak bisa secara sepihak langsung memecat personel mereka tanpa ada tindaklanjut sebelumnya.

“Kita mau berhentikan seseorang kan nggak bisa serta merta. Kan kayak orang narkoba kan diobati dulu gitu. Orang ini memang dalam pengobatan, tapi di RS kita kan terbatas dokter jiwa. Jadi dirujuk ke luar. Karena ada juga yang harus melalui pondokan, ada juga yang mondok,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan (Kadispenad) TNI AD Brigjen Alfret Denny Tuejeh mengatakan WS saat ini tengah menjalani pengobatan.

“Sudah pernah diperiksa kejiwaan dan memang dinyatakan ada gangguan kejiwaan dan sedang dalam proses berobat jalan,” kata Alfret kepada Liputan389, Jumat 11 Agustus 2017.

WS, oknum TNI yang mengamuk dan memukul anggota polantas di Pekanbaru mengalami gangguan jiwa. Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Edi Hartono mengatakan WS kerap bertingkah aneh dalam beberapa bulan terakhir. Edi menyebut, anggota kepolisian di wilayah Pekanbaru sudah mengetahui ‘keanehan’ WS itu.

“Ke kantor itu apel yang lain pakai seragam, dia tahu-tahu nyelonong pakaian preman sendiri. Di pojokan. Perlu pengobatan khusus lah. Teman-temannya juga, mungkin kawan polisi juga tahu dia depresi gitu. Jadi mungkin maklum. Teman-teman polisi di sana sih memang maklum dengan kondisi orang ini. Sudah tahu,” kata Edi kepada Liputan389, Kamis 10 Agustus 2017 malam.

“Dari tampangnya itu juga keliatan. Muka-muka tegang gitu kan. Dia memang kesehariannya udah nyeleneh seperti itu. Teman-temannya maklum,” sambung Edi.

Yang baru saja terjadi yakni saat WS mengamuk di tengah jalan dengan seorang anggota polantas. Saking emosinya, WS menendang motor polantas itu dan memukul helm dengan keras.

Meski agak mengalami gangguan jiwa, namun WS masih tetap berdinas dan tidak diberhentikan dari satuannya. Edi mengatakan, TNI tidak bisa secara sepihak langsung memecat personel mereka tanpa ada tindaklanjut sebelumnya.

“Kita mau berhentikan seseorang kan nggak bisa serta merta. Kan kayak orang narkoba kan diobati dulu gitu. Orang ini memang dalam pengobatan, tapi di RS kita kan terbatas dokter jiwa. Jadi dirujuk ke luar. Karena ada juga yang harus melalui pondokan, ada juga yang mondok,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan (Kadispenad) TNI AD Brigjen Alfret Denny Tuejeh mengatakan WS saat ini tengah menjalani pengobatan.

“Sudah pernah diperiksa kejiwaan dan memang dinyatakan ada gangguan kejiwaan dan sedang dalam proses berobat jalan,” kata Alfret kepada Liputan389, Jumat 11 Agustus 2017.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta maaf atas kelakuan oknum TNI yang memukul anggota Polantas di Pekanbaru, Riau. Dia berjanji oknum yang disebut sakit jiwa itu tetap diproses hukum.

“Atas kejadian tersebut (oknum TNI pukul Polantas), Aku mohon maaf dan anggota tersebut sekarang sudah ditahan di Riau,” kata Gatot di Kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat 11 Agustus 2017.

Gatot mengaku anggotanya tersebut mengalami gangguan kejiwaan sehingga melakukan tindakan tidak terpuji. Menurutnya, anggota tersebut sebenarnya sedang menjalani konsultasi di salah satu rumah sakit jiwa di Riau.

“Wartawan di Riau bisa cek di rumah sakit jiwa mana dan tiap minggu dia tetap konsultasi. Tapi bagaimana pun juga dalam hal ini, Aku minta maaf atas kelakuan anggota Aku tersebut,” ujar Gatot.

Gatot menjelaskan TNI tidak bisa langsung memecat anggota yang memukul Polantas tersebut. Sebab, untuk melakukan pemecatan harus ada proses hukum. Sementara anggota tersebut menderita sakit jiwa. “Kan diproses tapi dia sakit jiwa tapi tetap kami proses hukum. Nanti hukum yang akan menentukan bagaimana. TNI tidak akan mengeluarkan, memecat anggota tanpa proses hukum,” papar Gatot.

“Ke kantor itu apel yang lain pakai seragam, dia tahu-tahu nyelonong pakaian preman sendiri. Di pojokan. Perlu pengobatan khusus lah. Teman-temannya juga, mungkin kawan polisi juga tahu dia depresi gitu. Jadi mungkin maklum. Teman-teman polisi di sana sih memang maklum dengan kondisi orang ini. Sudah tahu,” kata Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Edi Hartono.

WS mengamuk di jalan dan menendang motor anggota polantas pada Rabu 9 Agustus 2017. Dia juga memukul helm anggota itu dengan keras.

About the Author