Novel Baswedan Tak Mau Ungkap Jenderal di Kasus Penyiramannya

0
10
views
Novel Baswedan enggan menyebutkan jenderal yang tersangkut kasus penyiramannya
Novel Baswedan enggan menyebutkan jenderal yang tersangkut kasus penyiramannya

Liputan389 – Novel Baswedan tetap menolak mengungkap siapa jenderal yang dikatakannya terlibat dalam perencanaan serangan zat asam terhadapnya. Dalam pemeriksaan resmi pertama tentang kasus serangan zat asam itu, Novel menyatakan hanya membuka nama sang jenderal kepada suatu tim gabungan pencari fakta. Hal itu disampaikan salah satu kuasa hukum Novel, Alghiffari Aqsa dari LBH Jakarta, kepada wartawan Liputan389 Kimberly.

“Tadi Novel juga ditanyakan mengenai daftar ancaman terhadap orang-orang KPK”

“Hal itu dia sampaikan di salah satu stasiun TV namun dia tidak mau menjawab atau menjabarkan daftar tersebut,” kata Alghiffari.

Disebutkan, tentang hal itu pun, Novel hanya akan menjawab apabila memang sudah dibentuk tim gabungan pencari fakta. Tim gabungan pencari fakta hingga saat ini belum dibentuk karena membutuhkan mandat dari Presiden.

Masalahnya, sejauh ini polisi menolak membentuk tim gabungan itu, dengan alasan tidak bersifat pro-justisia atau tidak mengikat secara hukum. Tim ini berbeda dengan tim gabungan Polri dan KPK yang dibentuk Kapolri, namun ditolak oleh Novel.

Alghiffari menyatakan bahwa Novel kooperatif dalam pemeriksaan “walaupun ada beberapa hal yang tidak dipenuhi oleh kepolisian secara administrasi.”

Yang dimaksud dengan administrasi adalah surat keterangan dokter dan izin dari otoritas setempat. Alghiffari menambahkan bahwa mereka “masih pesimis kasus ini bisa diselesaikan oleh kepolisian makanya tim advokasi Novel dan Novel sendiri mendesak tim gabungan pencari fakta.”

Kekecewaan Novel Terhadap Kasusnya Antara Lain :

Novel juga menyampaikan beberapa kekecewaan yang dialaminya selama pemeriksaan. Ia memapar kekecewaan itu dalam siaran pers kepada wartawan. Yakni:

1. Saksi-saksi kunci dipublikasi oleh polisi yang membuat mereka sekarang merasa terancam.

2. Penyidik sebelumnya terburu-buru membuat kesimpulan sendiri dan mempublikasikan kesimpulan tersebut, sehingga terkesan menutupi pihak-pihak tertentu.

3. Tidak ditemukannya sidik jari pada cangkir yang digunakan untuk menyiram Novel dengan air keras.

4. Penyidik tidak memberikan SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) ke keluarga Novel, yang merupakan hak bagi pelapor.

5. Novel pernah dikirimkan foto oleh anggota Densus 88 yang melakukan investigasi. Foto itu kemudian dikirimkan ke Kapolda dan Dirkrimum Polda Metro Jaya pada pertengahan April.

Pemeriksaan berlangsung di KBRI Singapura, setelah kontroversi berkepanjangan, terkait ketidak-sediaan Novel Baswedan yang menganggap tim Polri tidak serius dalam menangani kasusnya. Novel diperiksa tim Polda Metro Jakarta Senin pagi (14/8) mulai pukul 11.00 waktu setempat (10.00 WIB) hingga pukul 17:00, seperti dikatakan istri Novel, Rina Emelda kepada wartawan Liputan389 Christofer.

“Dari kediaman berangkatnya jam sembilan tapi Aku dapat info dari yang dampingi di sana, baru mulai diperiksa jam 11 karena mungkin teknisnya belum siap,” kata Rina.

Novel didampingi oleh tim biro hukum KPK dan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) sebagai kuasa hukum. Dua pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Saut Situmorang, juga ikut menemani.

Keterangan lebih jauh tentang pernyataan bahwa ada seorang jenderal polisi yang terlibat dalam perencanaan serangan zat asam terhadapnya, adalah yang paling ditunggu dari kesaksian Novel dalam pemeriksaan ini. Novel beberapa kali mengulangi pernyataan tentang jenderal polisi ini, termasuk dalam wawancara khusus dengan Liputan389 beberapa waktu lalu di Singapura.

Namun polisi pulang dengan tangan hampa, karena Novel bersikeras hanya akan mengungkapkan hal itu kepada Tim Independen Pencari Fakta yang hingga kini belum terbentuk. Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan bahwa Novel “tidak ada keberatan sama sekali” terhadap pemeriksaan polisi hari ini, meski sebelumnya Novel meragukan itikad kepolisian untuk mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap dirinya.

“Bahkan saat ada penyidik dari Polda yang datang ke Singapura, Novel memberikan informasi (meski) saat itu memang belum dilakukan pemeriksaan secara formal,” kata Febri dalam pesan singkat.

Rina menambahkan bahwa yang dipertanyakan oleh suaminya dalam pemeriksaan polisi ini adalah “prosedur yang belum pernah diurus.”

Yang dimaksud dengan prosedur adalah surat keterangan dokter dan izin dari otoritas setempat. Pemeriksaan Novel ini dilakukan hanya beberapa hari menjelang operasi mata artifisial yang akan dilakukan pada 17 Agustus mendatang.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Tito Karnavian akhirnya tiba di Istana Kepresidenan Jakarta, untuk menghadap Presiden Joko Widodo terkait pembahasan penyelesaian kasus Novel Baswedan.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian tiba lewat pintu samping Istana Merdeka, Jakarta, sekitar pukul 14:15. Pintu samping itu bukanlah gerbang yang umum digunakan oleh tamu presiden.

“Iya, itu Kapolri,” kata petugas pengamanan gerbang samping Istana, yang dimasuki Tito Karnavian, kepada wartawan Liputan389, Christofer Rudy.

Sebelumnya, tak satu pun pihak Istana pun yang memberikan kepastian tentang kedatangan Tito. Sekitar satu setengah jam sebelum kedatangan Kapolri, Juru Bicara Kepresidenan, Johan Budi, lewat pesan singkat kepada Liputan389 menyatakan “belum ada informasi” terkait pertemuan Jokowi dan Tito.

Hal serupa disampaikan Kepala Biro Pers Istana Kepresidenan, Bey Mahmudin, “Sangat bergantung pada Presiden akan memanggil (Kapolri atau tidak).”
Diam-diam?

Kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan mendulang perhatian publik. Pasalnya selain tidak satu pun tersangka ditetapkan Kepolisian meski kasus sudah bergulir hampir empat bulan.

Kepada sejumlah media Novel juga menyebut adanya keterlibatan jenderal polisi dalam rencana penyerangan air keras terhadap dirinya.

Saat ditanya wartawan, Minggu 30 Juli kemarin, Presiden Joko Widodo mengatakan telah meminta Kapolri untuk ‘menghadap’ dirinya hari ini. Namun, pertemuan tidak dicantumkan dalam agenda resmi presiden yang disebar kepada wartawan Istana.

Pintu gerbang samping yang dilewati Tito, tidak boleh didekati hampir 100 meter oleh wartawan. Kepastian bahwa tamu yang datang dengan mobil polisi dilengkapi dengan pengamanan, adalah Kapolri, hanya lewat pernyataan dari petugas bersenjata yang mengamankan gerbang. Ketika dikofirmasi lagi kepada Johan Budi, terkait kedatangan Kapolri, Johan hanya membalas singkat, “Belum ada info”.

Para pegiat antikorupsi mengharapkan pertemuan presiden-Kapolri itu berujung pada pembentukan tim pencari fakta independen.

“Mandat langsung dari presiden, dan kalau bisa tim independen ini bergerak atas keputusan presiden dari presiden,” kata Sekjen Transparency International Indonesia (TII), Dadang Trisasongko, kepada wartawan Liputan389, Heyder Affan, Minggu malam.

Selain melibatkan KPK, Dadang menyarankan tim pencari fakta kasus Novel Baswedan itu melibatkan masyarakat. “Supaya kredibilitas tim itu lebih kuat dan diterima oleh publik,” kata Dadang.

Comments

comments